Wagub Buka Raker PW Fatayat NU Ke III, Pengurus Fatayat Dituntut Belajar Literasi Digital Di Era Kecanggihan Teknologi

Dalam Pesanya, Margareth Aliatul Maimunah menegaskan kaitan dengan teknologi, ada Plus dan ada Minusnya. Tidak semua kecanggihan teknologi semuanya bernilai positif

Indikatorpapua.com|MANOKWARI-Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani membuka Rapat Kerja Ke III Pengurus Wilayah Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Papua Barat di Gedung Pertemuan, Sekertariat Majelis Ulama Indonesia MUI di Jalan Baru, Manokwari Sabtu (28/5-2021)

Rapat Kerja Pengurus Wilayah Fatayat Nahdatul Ulama Papua Barat ke III mengusung tema “Sukses Fatayat menuju Perempuan yang cerdas, mandiri dan bermartabat dengan mengimplementasikan Aswaja yang Rahmatan Lil Alammin”

Hadir dalam Pembukaan Raker III Fatayat NU, Sekertaris Umum Fatayat Pusat, Perwakilan dari DPRD Papua Barat dari Partai Kebangkitan Bangsa PKB, Pengurus PWNU Papua Barat.

Sekertaris Umum Pimpinan Fatayat Nahdatul Ulama Pusat, Hj. Margareth Aliatul Maimunah, SS, M. Si memberikan apresiasi kepada Pengurus Fatayat NU Papua Barat yang menggelar Rapat Kerja wilayah Ke III, ini bagian dari aktivitas Internal Organisasi sehingga nanti dalam Raker dapat melakukan penilaian,  terhadap segalah aktivitas yang sudah di lakukan

“Mana saja yang perlu dilanjutkan dan apa saja yang mungkin perlu dihadirkan sebagai jawaban atas tantangan kekinian dalam Raker III Fatayat NU ini” kata Sekertaris Umum Fatayat NU Pusat, Margareth Aliatul Maimunah.

Margareth dalam sambutanya menyampaikan pesan kepada Pengurus Fatayat NU Papua Barat, dalam rangka agenda rapat kerja, para pengurus fatayat Papua Barat mampu beradaptasi menghadapi tantangan di era kekinian. Disetiap tantangan tentu berbeda dari Tahun ke Tahun, sepanjang perjalanan Fatayat NU.

“Hari ini tantangan yang paling kelihatan dan mau dan tidak mau, Sahabat- sahabat (Sapaan akrab pengurus Fatayat NU red) Fatayat harus hadapi adalah tantangan kecanggihan di era Teknologi” tuturnya.

Bicara soal kecanggihan teknologi, Kata Margareth bahwa sahabat- sahabat Fatayat tidak bisa lari menghindar lagi, bahkan Anak-anak pun juga tidak terbendung aksesnya terhadap Internet dan Gedget.

“Padahal itu (Anak-anak) bagian dari konsentrasi fatayat NU, bicara soal Pemberdayaan Perempuan dan bicara soal pendidikan Anak” tegasnya.

Menurut, Aliatul Maimuna dalam pesanya bahwa kaitan dengan teknologi, ada Plus dan ada Minusnya. Tidak semua kecanggihan teknologi semuanya bernilai positif.

“Ternyata dibalik keberadaan kecangihan teknologi, memiliki ancaman dan dampak negatif yang luar biasa terutama mengancam anak-anak kita yang merupakan Generasi penerus Keluarga dan Bangsa” ujarnya.

Sekertaris Umum Fatayat NU Pusat, Margareth Aliatul Maimuna

“Ini Pekerjaan Rumah (PR) bagi Fatayat banget ini, kerjaan fatayat banget ini  karna memang perlindungan anak bagian dari salah satu konsentrasi Fatayat” tambahnya.

Berbicara mengenai ancaman negatif dari kecanggihan Teknologi, Margareth menegaskan saat ini kita dihadapkan pada kondisi yang mengejutkan, karena tidak hanya soal adanya konten Negatif, misalnya Gambar bermuatan Pornografi atau bermuatan kekerasan dan juga prilaku yang dapat mendorong anak agar berbuat kekerasan.

“Dari apa yang Anak tonton, baik itu Game Online atau konten diberbagai platfom media sosial. Jangan di sangka bahwa game online hanya sekedar animasi,  tapi disitu menyimpan gambar bermuatan Pornografi dan ini berbahay bagi anak” tuturnya.

“Tentu jadi pekerjaan rumah bagi Fatayat, bagaimana bisa melakukan pengasuhan berkualitas yang memiliki perspektif literasi Digital yang berkualitas sehingga dapat menghindarkan anak-anak kita dari berbagai konten Negatif ditengah kecanggihan teknologi digital”paparnya.

Senada dengan Sekertaris Umum Fatayat NU Pusat, Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani mengatakan, sederet isu sebagai masukan bagi Fatayat NU Papua Barat telah disampaikan oleh Sekertaris Umum Fatayat NU Pusat, hal tersebut sebagi garis besarnya.

“Namun tentu yang paling memahami betul persoalan yang ada di Papua Barat adalah pengurus Fatayat NU Wilayah Papua Barat,  baik Provinsi maupun di Kabupaten Kota sehingga apa yang disampaikan oleh Sekertaris Umum menjadi panduan bagi peserta raker agar merumuskan kerja kerja yang harus dilakukan kedepan” kata Mohamad Lakotani dalam sambutanya dihadapan Pengurus Pusat, Wilayah dan Daerah Fatayat NU.

Wagub Papua Barat mengatakan, forum rapat kerja bukan hanya sebatas Silaturahmi, tetapi juga merupakan evaluasi apa saja yang dilakukan, 

“saya kira ini rapat kerja yang ke tiga berarti dari rapat kerja satu dan dua apa saja yang dilakukan kemudian dirumuskan dan tindak lanjutnya, dimana persoalan-persoalan yang menjadi kendala dan di cari solusinya” jelas Wagub Mohamad Lakotani.

Sebagai Badan Otonom dari Nahdatul Ulama atau NU, tentu semangat yang khusyu adalah semangat Pluralis yang bisa hidup rukun dan damai apalagi di Negara kita yang plurasi wabil khusus di Papua Barat yang sangat Pluralis. Itu juga menjadi sesuatu yang penting dan menjadi catatan bagi Pemerintah.

Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat, Mohamad Lakotani

“Kebetulan Papua Barat ini di Tahun 2017 kemudian Tahun 2019 dan kita harapkan di Tahun 2021 ini lagi kita memiliki Indek kerukunan umat beragama tertinggi di Indonesia, itulah kerja kita semua, kontribusi kita semua termasuk Fatayat” jelasnya.

Dalam kesempatan forum rapat kerja, Wagub Papua Barat kembali menggugah semua pihak agar kembali dalam setiap gerak aktifitas, dijaga dan dipastikan bahwa apa yang dicapai ini terus kita jaga.

“Karna itu menjadi prasyarat penting dalam upaya kita membangun Daerah, meningkatkan kesejahteraan. Kerukunan antar umat beragama sesungguhnya menggambarkan bahwa kondisi di Papua Barat ini sangat kondusif dan aman” tuturnya.

Kondusifnya sebuah daerah itu sesungguhnya menandakan bagi kita Pemerintah Daerah untuk melanjutkan pembangunan, bagaimana membangun Daerah dan membangun Masyarakat.

“Fatayat NU sudah memberikan kontribusi yang saya kira luar biasa dalam kiprahnya di Papua Barat dan menjadi mitra strategis Pemerintah. Maka saya berharap kemitraan antara Fatayat NU dengan Pemerintah mari kita rawat dan jaga bersama lalu ditingkatkan dimasa yang akan datang” harapnya.

Pemerintah memberikan bantuan keoada berbagai Organisasi sosial kemasyarakatan itu merupakan bagian yang penting dalam kemitraan, sebab Pemerintah kata Wagub tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai Organisasi sosial masyarakat, termasuk Fatayat NU.

“Tugas bagaimana memberikan perhatian kepada perlindungan Perempuan tetapi juga anak, barangkali Pemerintah punya seperti dinas atau lembaga yang menangani, tetapi tentu kita punya keterbatasan” ujarnya

Seraya menambahkan bahwa, “oleh karena itu supaya menjangkau lebih luas lagi maka seluruh komponen anak bangsa juga dilibatkan atau ikut serta agar tugas pemerintah lebih efektif dan dimudahkan dan ini merupakan komitmen dari Pemerintah” jelasnya.

Dikatakan bahwa, seluruh Organisasi sosial di Papua Barat, Pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk finansial agar memastikan roda organisasi yang ada di Papua Barat bisa berjalan.

“Kami percaya bahwa seluruh Organisasi sosial Masyarakat di Papua Barat memiliki tanggung jawab untuk membina Masyarakat, minimal anggotanya itu bisa dibina sehingga memiliki tanggung jawab sesuai misi dari hadirnya Ormas itu,  termasuk Fatayat NU” bebernya.

Rosmiati, Pimpinan Fatayat Nahdatul Ulama Wilayah Papua Barat menghaturkan terima kasih Kepada Pemerintah Papua Barat dalam dukunganya baik berupa Anggaran maupun bimbingan, dikatakan Raker tersebut digelar sehari kemudian pada Minggu (19-5-2021) besok Pengurus mengagendakan kunjungan ke salah satu Pesantren di SP III Prafi Manokwari.

Rosmiati menegaskan bahwa Rapat kerja Fatayar NU bertujuan mengsinkronkan Program kerja agar kedepan pengurua Wilayah dan Cabang-cabang bisa menjalankan Program kerja secara baik.

Dikatakan bahwa, Komitmen Fatayat NU Papua Barat memberikan dukungan membantu Pemerintah dalam menjalankan Visi dan Misi demi kesejahteraan Masyarakat di Provinsi Papua Barat.|Laporan: Mohamad Raharusun

Total
0
Shares
0 Share
0 Tweet
0 Pin it
0 Share
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
Total
0
Share
error: Hati-hati Salin Tanpa Izin kena UU No.28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI No.19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
%d blogger menyukai ini: