Kredit: morningstaronline.co.uk
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melaporkan pada hari Selasa bahwa dampak konflik bersenjata terhadap warga sipil di Kolombia adalah yang terburuk dalam satu dekade akibat kondisi keamanan yang semakin memburuk.
Laporan tahunan ICRC menemukan bahwa jumlah orang yang mengungsi, karena geng kriminal dan pemberontak melawan negara Kolombia dan satu sama lain, meningkat dua kali lipat pada tahun 2025, mencapai 235.000 orang, News.Az melaporkan, mengutip Morning Star.
Jumlah orang yang harus bertahan di kota kecil dan desa yang dikepung oleh kelompok pemberontak juga meningkat 99 persen tahun lalu.
Sejak puluhan tahun lalu kelompok pemberontak dan pengedar narkoba telah melawan pemerintah Kolombia untuk mengendalikan wilayah pedesaan.
Perjanjian perdamaian tahun 2016 antara pemerintah Kolombia dan kelompok pemberontak terbesar negara itu, Tentara Pembebasan Nasional Kolombia (Farc), membantu mengurangi kekerasan di pedesaan. Namun kepala misi ICRC di Kolombia, Olivier Dubois, mengatakan bahwa sejak itu “situasi kemanusiaan pada 2025, merupakan hasil dari penurunan yang progresif.”
ICRC juga mencatat bahwa pada 2025 ada 965 orang yang tewas atau terluka akibat bahan peledak, termasuk ranjau darat dan drone, 33 persen lebih banyak kasus dibanding tahun sebelumnya.
LSM itu mendesak pihak-pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata di Kolombia untuk menghormati hak-hak warga sipil dan melindungi mereka yang tidak lagi ingin terlibat dalam pertempuran.
News.Az
By Ulviyya Salmanli



