Gotrade News – Rupiah Indonesia melemah 0,21% menjadi Rp 17.180 per dolar AS selama sesi perdagangan hari Selasa (22/04) di tengah penjualan yang luas di obligasi domestik. Penurunan ini terjadi beberapa jam sebelum Bank Indonesia akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan terbarunya.
Peserta pasar mengambil sikap menunggu dan lihat saat bank sentral mempertimbangkan kebijakan moneter. Dana asing sebesar US$1,8 miliar keluar dari pasar Indonesia telah meningkatkan tekanan pada mata uang.
Poin Penting: – Rupiah melemah 0,21% menjadi Rp 17.180/USD dipicu oleh tekanan penjualan di pasar obligasi – Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di 4,75% – Ketidakpastian geopolitik AS-Iran dan dana asing sebesar US$1,8 miliar keluar membebani sentimen
Yield obligasi pemerintah Indonesia naik di seluruh kurva, dengan tenor 2 tahun naik 6,7 basis poin menjadi 5,97%. Yield 3 tahun meningkat 5,3 basis poin menjadi 6,1%.
Yield obligasi benchmark 10 tahun naik 1,6 basis poin menjadi 6,61%. Pergerakan ini mencerminkan penjualan terus menerus dari investor asing di pasar pendapatan tetap domestik.
Lukman Leong dari Doo Financial memproyeksikan bahwa rupiah akan diperdagangkan antara Rp 17.100 dan Rp 17.200. Dia mencatat bahwa para trader enggan mengambil posisi besar menjelang pengumuman kebijakan bank sentral.
Ekonom Kepala Bank Permata, Josua Pardede, menunjukkan optimisme singkat mengenai perundingan perdamaian di Timur Tengah. Laporan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, berencana melanjutkan negosiasi di Pakistan awalnya meningkatkan sentimen.
Namun, pembatalan kunjungan Vance ke Pakistan menandakan kemacetan dalam diplomasi AS-Iran. Presiden Trump mengkonfirmasi perpanjangan gencatan senjata sambil menunggu pembicaraan yang dijadwalkan kembali pada Selasa (22/04) di Islamabad.
Teks berlanjut mengenai tekanan global yang memberatkan mata uang lokal dan apa arti keputusan suku bunga Bank Indonesia bagi rupiah ke depannya. Inflasi retail AS untuk Maret 2026 menunjukkan peningkatan 1,7% secara bulanan, memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat yang berkelanjutan dari Federal Reserve. Naratif ini terus menarik modal asing dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Para investor harus memperhatikan jumpa pers Gubernur Bank Indonesia setelah keputusan. Tone dari panduan ke depan akan menentukan apakah rupiah dapat bertahan di bawah level Rp 17.200 minggu ini.
Sumber: –






