Hanya tiga jam dari intensitas Kota New York yang jauh dari kebisingan layar dan pemberitahuan konstan sebuah kota kecil di Pegunungan Catskill sedang mendefinisikan pariwisata budaya di Amerika Serikat. Tempat itu adalah Hobart, dikenal sebagai “Desa Buku,” sebuah enklave di mana buku-buku tidak hanya dijual tetapi dijalani.
Dengan sedikit lebih dari 300 penduduk, sudut Kabupaten Delaware ini telah mencapai sesuatu yang tidak lazim dalam ekonomi saat ini: membangun identitas di sekitar membaca. Sejak tahun 2005, kota ini telah berubah menjadi “desa buku,” memusatkan beberapa toko buku independen sepanjang satu jalanan, sebuah model yang terinspirasi dari inisiatif serupa di Eropa.
Hari ini, identitas itu berkembang dalam skala yang lebih besar. Pada April 2026, wilayah ini meluncurkan Catskills Book Trail, rute sastra selama 15 hari yang menarik wisatawan dan pelancong budaya ke New York bagian utara.
Fenomena ini bukan kebetulan. Menurut laporan tren perjalanan, 91% wisatawan di Amerika Serikat sedang mencari pengalaman yang menjauh dari rutinitas perkotaan, memprioritaskan kegiatan seperti membaca, bersantai, dan berhubungan dengan alam.
Dalam konteks itu, Hobart muncul sebagai respons langsung terhadap kebutuhan kontemporer: untuk melambat.
Rute sastra, berlangsung dari 25 April hingga 10 Mei, menawarkan perjalanan melalui 12 toko buku independen di seluruh Catskills, dengan sistem “paspor budaya” yang mendorong pengunjung untuk mengeksplorasi setiap tempat.
Tetapi inti dari pengalaman tetap berada di Hobart. Di sana, sepanjang satu jalanan, pengunjung akan menemukan toko-toko yang mengkhususkan diri dalam buku-buku langka, puisi, sejarah, memasak, dan edisi antik banyak dijalankan oleh penjual buku yang telah mengubah kecintaan mereka menjadi gaya hidup.
Yang terjadi di Hobart jauh melampaui pariwisata. Ini adalah eksperimen ekonomi yang berakar dalam budaya.
Selama beberapa dekade, kota ini mengalami penurunan yang biasa dilihat di banyak komunitas Amerika pedesaan: kehilangan populasi, penutupan bisnis, dan aktivitas ekonomi yang berkurang. Kedatangan toko buku independen mengubah jalur tersebut.
Hari ini, “Desa Buku” menarik pengunjung dari seluruh negeri, menghasilkan pendapatan bukan hanya untuk toko-toko tetapi juga untuk penginapan, restoran, dan kegiatan tambahan seperti mendaki, memancing, dan festival sastra.
Model ini menunjukkan bahwa, bahkan di dunia yang didominasi oleh perdagangan digital, masih ada ruang untuk pengalaman fisik yang berpusat pada pengetahuan dan komunitas.
Kesuksesan Hobart juga mencerminkan pergeseran dalam cara konsumen terlibat dengan budaya. Di pasar yang didominasi oleh raksasa teknologi, toko-toko buku independen telah mendapatkan kembali relevansi sebagai tempat berkumpul.
Di Hobart, setiap toko memiliki identitasnya sendiri. Ada yang mengkhususkan diri dalam buku langka yang berasal dari sebelum tahun 1850; yang lain fokus pada sastra kontemporer, seni, atau topik-topik niche seperti kerajinan dan gastronomi.
Keragaman itu mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan eksplorasi daripada sekadar pembelian sederhana.
Acara-acara seperti festival penulis termasuk Festival Penulis Wanita lebih memperkuat peran kota sebagai pusat budaya yang aktif, bukan sekadar tujuan wisata.
Paradoksnya, kebangkitan Hobart juga didorong oleh budaya digital. Platform seperti TikTok, melalui komunitas seperti #BookTok, telah mempopulerkan perjalanan sastra dan liburan yang berfokus pada membaca.
Dengan hampir 80.000 pos yang terkait dengan pengalaman-pengalaman ini, tren ini telah melampaui audiens niche untuk menjadi pola konsumsi budaya yang lebih luas.
Dalam lanskap tersebut, Hobart menempatkan dirinya sebagai destinasi yang “instagenic” tetapi dengan kedalaman yang melampaui estetika, menawarkan substansi, sejarah, dan koneksi.
Sebagian daya tariknya terletak dalam pengaturannya. Terletak di Pegunungan Catskill, kota ini mencampurkan lanskap alam dengan arsitektur bersejarah dan ritme kehidupan yang lebih lambat.
Pengunjung dapat bergantian antara menjelajah toko-toko buku, mendaki jalur gunung, atau sekadar membaca di dekat jendela yang menghadap hutan. Integrasi alam dan budaya ini, bagi banyak orang, adalah nilai sejati dari pengalaman tersebut.
Konsep “kota buku” bukanlah hal baru. Ada contoh di seluruh Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Namun, Hobart menonjol karena kemampuannya untuk menyesuaikan model ini dengan konteks Amerika, di mana pariwisata sering berpusat pada kota-kota besar atau taman nasional.
Meskipun demikian, para ahli memperingatkan bahwa model ini tidak mudah untuk diduplikasi. Hal itu membutuhkan kombinasi faktor-faktor tertentu: komunitas yang berkomitmen, identitas yang jelas, dan penawaran budaya yang autentik.
Pada saat industri perjalanan berusaha untuk berevolusi setelah bertahun-tahun perubahan global, inisiatif seperti Catskills Book Trail menawarkan petunjuk ke mana sektor tersebut akan menuju.
Wisatawan tahun 2026 tidak hanya mencari destinasi, tetapi pengalaman yang bermakna. Dan dalam hal itu, Hobart mewakili tren yang lebih luas: kembali ke hal-hal pokok.
Membaca, berjalan, menghubungkan.
Kegiatan sederhana yang, di era saturasi digital, telah menjadi bentuk kemewahan.





