Uni Eropa mengeluarkan peringatan tentang bahaya peningkatan jumlah anak-anak yang tidak divaksinasi dan terpapar campak di wilayah konflik Timur Tengah dan Afrika Utara. Banyak kelompok bantuan melaporkan adanya peningkatan kasus campak di zona konflik karena pemotongan bantuan dan kerusakan sistem kesehatan yang mengganggu program imunisasi.
Berbagai negara yang mengalami konflik seperti Yaman, Suriah, Sudan, dan wilayah Palestina telah mengalami gangguan dalam pelayanan medis rutin serta kesulitan dalam mencapai anak-anak dengan layanan dasar seperti imunisasi. Akibatnya, penyakit seperti campak di negara-negara dengan konflik juga lebih mungkin berujung pada kematian. Misalnya, di Sudan terjadi peningkatan kasus campak yang signifikan dari 1.452 pada tahun 2024 menjadi 7.644 kasus pada tahun 2025, namun hanya dilaporkan 102 kasus hingga April tahun ini.
Selain itu, saat ini Save the Children dan kelompok bantuan lainnya sedang mencari cara untuk mengurangi jumlah anak-anak yang menerima dosis pertama saja dari vaksin campak, gondok, dan rubela yang dikombinasikan. Karena pemotongan dana global, program imunisasi penting yang dijalankan oleh Save the Children dan organisasi lain di banyak negara yang terkena konflik berisiko ditutup. Ini menimbulkan masalah serius, karena penutupan ini berarti seluruh populasi tidak akan memiliki akses ke layanan kesehatan yang diperlukan.
Di tengah kondisi yang sulit ini, Save the Children tetap berupaya untuk mencapai anak-anak yang tidak mendapat imunisasi yang memadai. Mereka bekerja sama dengan kementerian kesehatan dan mitra lokal untuk mencapai anak-anak yang membutuhkan dengan memberikan informasi yang jelas tentang manfaat vaksinasi dan memahami keprihatinan orang tua terkait vaksinasi.Ini merupakan tindakan yang penting untuk mengatasi ketakutan dan kekhawatiran tentang vaksinasi di komunitas yang terpapar konflik. Perluasan upaya dilakukan dengan strategi one-on-one untuk memberikan penjelasan kepada keluarga tentang manfaat vaksinasi.
Selain itu, Save the Children memantau situasi di Suriah dan Lebanon dengan cermat, karena data yang akurat sering sulit didapatkan akibat konflik. Populasi yang bergerak ke daerah lain seringkali sulit untuk dilacak datanya, termasuk riwayat vaksinasi anak-anak mereka. Hal ini meningkatkan risiko wabah campak di tempat-tempat tersebut.
Saat ini, Save the Children juga mengevaluasi berapa banyak fasilitas kesehatan yang harus ditutup pada tahun 2024 dan 2025 dan berapa banyak lagi yang harus ditutup tahun ini dan pada tahun 2027. Di Sudan, yang merupakan salah satu daerah konflik di mana Save the Children menjalankan program imunisasi besar, mereka harus beradaptasi dengan kondisi di lapangan dengan membawa vaksin dari berbagai negara tetangga seperti Chad dan Sudan Selatan.
Menyusul berbagai tantangan ini, Save the Children dan kelompok bantuan lainnya terus berjuang untuk mencapai anak-anak yang paling berisiko terkena penyakit seperti campak. Pemotongan dana global dan kemungkinan penutupan program-program vital oleh organisasi seperti Save the Children di banyak negara yang terkena konflik menimbulkan keprihatinan serius di bidang kesehatan global, yang dapat berdampak negatif pada kemajuan imunisasi dan kesehatan anak-anak di seluruh dunia.
[Catatan Konteks: Peningkatan kasus campak di negara-negara konflik dapat berujung pada ancaman kesehatan yang serius, terutama bagi anak-anak yang tidak divaksinasi dengan baik. Organisasi kemanusiaan, seperti Save the Children, terus berupaya untuk mencapai anak-anak yang terkena dampak konflik dan meningkatkan cakupan imunisasi di tengah kondisi sulit.]
[Catatan Fact Check: Data yang akurat tentang kasus campak dan cakupan imunisasi dapat menjadi tantangan di negara-negara konflik, di mana akses terhadap layanan kesehatan dasar seringkali terganggu.]



