Jakarta: Pemerintah Indonesia Menjelaskan Rencana Akses Terbang Pesawat Militer AS
Pemerintah Indonesia memberikan klarifikasi terbaru terkait laporan rencana yang akan memungkinkan pesawat militer Amerika Serikat dengan mudah terbang di wilayah udara Indonesia, dengan mengatakan bahwa inisiatif tersebut pada awalnya diajukan oleh pihak Washington di tengah kekhawatiran akses tanpa batas digunakan dalam perang Iran.
Media berbasis New Delhi, Sunday Guardian, mengungkapkan pada akhir pekan bahwa Washington telah meminta kesepakatan akses terbang yang disebut “blanket overflight access” dengan Indonesia berdasarkan dokumen pertahanan AS yang bersifat rahasia. Singkatnya, ini akan memungkinkan pesawat militer AS melintas secara langsung setelah pemberitahuan daripada persetujuan kasus demi kasus. Laporan ini menyatakan bahwa Indonesia akan menyediakan skema ini untuk keperluan operasi kontingensi, tanggapan krisis, dan kegiatan terkait latihan yang disetujui bersama.
Kementerian Pertahanan telah membantah bahwa kesepakatan tersebut mencapai tahap finalisasi, meskipun pernyataan tersebut gagal meredakan kemarahan publik. Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah klarifikasi, Indonesia meningkatkan hubungan pertahanannya dengan AS, menyebabkan pemerintah semakin terjepit. Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa izin lintas udara, yang masih berbentuk naskah nota kesepahaman, masih dalam tahap awal.
“AS yang mengusulkan ini [akses terbang]. Akhirnya menjadi subjek pertimbangan internal dalam pemerintahan Indonesia,” kata Rico kepada Jakarta Globe pada hari Selasa.
Peneliti hubungan internasional di Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, memperingatkan bahwa kesepakatan transit pesawat militer bisa membuat Jakarta terlihat berpihak pada AS.
“Iran akan menganggap bahwa Indonesia memberi kesempatan bagi AS untuk melancarkan serangan terhadap Tehran,” ujar Hikmahanto.
“Pesawat militer dari pangkalan AS di Asia Pasifik dan Australia harus transit melalui wilayah udara Indonesia jika mereka ingin bergabung dengan basis di Timur Tengah untuk menyerang Iran. Itulah mengapa kita tidak boleh memberikan akses terbang tanpa batas,” tambahnya.






