Beranda Indonesia Menghitung Kematian Malaria untuk Mencegah Kehilangan Nyawa yang Dapat Dicegah di Indonesia

Menghitung Kematian Malaria untuk Mencegah Kehilangan Nyawa yang Dapat Dicegah di Indonesia

21
0

Di Indonesia, kematian yang berkaitan dengan malaria sering kali dilaporkan dan diklasifikasikan dengan salah, terutama yang terjadi di luar fasilitas kesehatan atau melibatkan komplikasi. Penyebab kematian-kematian ini – baik karena keterlambatan perawatan, manajemen yang buruk, atau komplikasi – seringkali tidak sepenuhnya dipahami. Hal ini telah menyembunyikan dampak sebenarnya penyakit ini dan menyebabkan intervensi kesehatan masyarakat yang kurang tepat sasaran. Sebagai respons, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendukung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2024 dan 2025 untuk meninjau data kematian terkait malaria di rumah sakit, untuk pertama kalinya sejak 2014.

Bekerjasama dengan Pusat Studi Administrasi Kesehatan dan Kebijakan Universitas Indonesia, Kemenkes memeriksa lebih dari 500.000 kasus malaria yang tercatat antara tahun 2010 dan 2023 di tiga provinsi berisiko tinggi: Papua, Papua Tinggi, dan Kalimantan Timur. Analisis tersebut menemukan bahwa 183 atau 0,034% pasien malaria di rumah sakit meninggal – angka yang lebih tinggi dibandingkan data tingkat negara dalam sistem informasi malaria nasional.

Penemuan yang mengkhawatirkan adalah bahwa 44 kematian – dengan kata lain, sekitar satu dari empat – bisa dicegah dengan diagnosis dan rujukan yang tepat, pemantauan klinis yang memadai, dan dokumentasi yang benar untuk membimbing perawatan klinis. Dengan mengkhawatirkan, meskipun jumlah kasus menurun, jumlah kematian akibat malaria tetap bertahan.

Strategi Teknis Global untuk Malaria WHO 2016-2030 menyerukan penurunan 90% dalam kematian akibat malaria pada tahun 2030 dan mencegah kematian yang dapat dihindari. Langkah-langkah seperti pengendalian nyamuk yang lebih baik, kelambu berinsektisida, dan surveilans yang terarah dapat membantu. Namun demikian, temuan dari tinjauan menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk bertindak – dengan meningkatkan perawatan klinis untuk menyelamatkan nyawa, terutama di daerah yang paling terpengaruh di mana kematian akibat malaria semakin berkonsentrasi.

Kegiatan ini didukung oleh Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria.

(Tulisan oleh Ajib Diptyanusa, Konsultan Nasional untuk Penyakit Malaria dan Penyakit yang Ditularkan melalui Vektor, dan Budiarto, Pejabat Profesional Nasional (HIV, Hepatitis, dan Infeksi Menular Seksual), WHO Indonesia)