Beranda Budaya Pemimpin Terlambat Dipuji sebagai Model Intelektualisme yang Sejati – Berita Masyarakat/Budaya

Pemimpin Terlambat Dipuji sebagai Model Intelektualisme yang Sejati – Berita Masyarakat/Budaya

43
0

Pertemuan yang bertajuk “Pemimpin yang Syahid dan Buku; Jalan yang Ditempuh dan Jalan ke Depan” diadakan di Organisasi Ilmiah dan Kebudayaan Astan Quds Razavi di Mashhad pada 6 Mei, dihadiri oleh sekelompok penggemar buku.

Berbicara dalam acara tersebut, Masoud Farzaneh, direktur pengelola Penerbitan Astan Quds Razavi, mengatakan serangkaian pertemuan ini, yang akan terus dilangsungkan secara berkala di masa depan, bertujuan untuk mengkaji perilaku dan pendekatan dari Pemimpin yang sudah wafat tentang pentingnya buku dan untuk menemukan kembali karakter sastra beliau.

Dia mengatakan bahwa di tengah kondisi yang penuh gejolak saat ini dan perang agresi yang diterapkan oleh AS dan rezim Zionis, memperhatikan contoh perilaku dari Pemimpin yang syahid dapat membantu memandu masyarakat.

Farzaneh menambahkan bahwa perhatian Ayatollah Seyed Ali Khamenei terhadap budaya, buku, dan membaca mencerminkan identitas kaya bangsa Iran, yang, meskipun menghadapi “musuh-musuh haus darah dan kejam,” bangga dan bergantung pada budaya agama dan nasionalnya.

Dia juga menggambarkan pemimpin yang sudah wafat sebagai salah satu tokoh luar biasa dalam promosi buku di Iran dan mengatakan beliau memainkan peran penting dalam memupuk budaya membaca di kalangan rakyat Iran.

Kemudian dalam pertemuan, penulis dan peneliti Mohsen Mo’meni Sharif mengatakan buku, dalam pemikiran Pemimpin yang syahid dari Revolusi Islam, bukan sekadar alat untuk belajar, tetapi merupakan dasar utama untuk pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah, masyarakat, dan perkembangan intelektual dan peradaban.

Dia mengatakan perspektif ini telah memainkan peran penting dalam membentuk pandangan strategis dan jauh ke depan Pemimpin yang sudah wafat.

Mo’meni Sharif lebih lanjut menyatakan bahwa Ayatollah Seyed Ali Khamenei memiliki pemahaman yang mendalam tentang sejarah Iran dalam dimensinya yang mitos, epik, dan nyata, menambahkan bahwa pandangannya terhadap sejarah tidak sekadar deskriptif atau naratif, tetapi berakar dalam kerangka intelektual Islam dan analisis berdasarkan tradisi ilahi.

Dia menggambarkan Pemimpin yang syahid dari Revolusi Islam sebagai contoh intelektual yang sesungguhnya yang benar-benar memahami bangsanya dan dunia Iran, oleh karena itu beliau memiliki pandangan yang realistis dan jujur tentang rakyat Iran.