Jakarta. Seorang pejabat pemerintah senior telah menjelaskan bahwa anggaran riset Indonesia sebenarnya mencapai Rp 8 triliun ($467 juta) tahun ini, menepis asumsi bahwa negara itu hanya bersedia mengalokasikan Rp 1,7 triliun ($99 juta).
Beberapa minggu yang lalu, Kementerian Pendidikan Tinggi mengumumkan bahwa pemerintah akan menyalurkan Rp 1,7 triliun ke dalam riset untuk 18.215 proposal. Fauzan Adziman, direktur jenderal riset di kementerian, mengatakan bahwa Rp 1,7 triliun bukanlah satu-satunya uang yang akan diajukan pemerintah tahun ini.
“Dana riset kita [untuk 2026] sebenarnya total Rp 8 triliun,” kata Fauzan pada hari Senin.
Sekitar Rp 3,2 triliun ($186,8 juta) berasal dari anggaran kementerian. Sisanya bersumber dari dana hibah pendidikan LPDP, serta program riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kementerian baru-baru ini menyetujui 18.215 dari 104.546 proposal riset untuk pendanaan Rp 1,7 triliun. Proposal-proposal ini mencakup berbagai topik, meskipun pendanaan tersebut terutama ditujukan untuk subjek yang sejalan dengan program-program kunci Indonesia, baik itu makanan, kesehatan, pengolahan industri, dan lain-lain. Pemerintah pada saat itu mengatakan bahwa program-program tersebut bertujuan untuk mendorong solusi konkret.
Earlier this year, President Prabowo Subianto had promised to raise the research budget by another Rp 4 trillion, roughly $233.5 million, following a meeting with senior officials from Indonesian universities. In other words, this would bring the total research budget to Rp 12 trillion ($700.5 million).
“Presiden telah mengambil beberapa keputusan berdasarkan pertemuan [dengan rektor dan professor universitas]. Anggaran riset adalah Rp 8 triliun, yang setara dengan 0,34% dari anggaran negara. Jadi beliau [Prabowo] memutuskan untuk menambahkan Rp 4 triliun lagi,” kata Sekretaris Negara Praseto Hadi kepada wartawan pada pertengahan Januari.




