Beranda Perang Bahrain menghapus kewarganegaraan dari 69 orang atas dukungan terhadap Iran

Bahrain menghapus kewarganegaraan dari 69 orang atas dukungan terhadap Iran

21
0

Kelompok hak asasi manusia telah menggambarkan langkah ini sebagai tindakan yang “menggunakan kekuasaan secara kasar”.

Perdana Menteri Bahrain telah mencabut kewarganegaraan puluhan orang atas dugaan mendukung serangan Iran terhadap negara itu. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan pada hari Senin bahwa telah mencabut kewarganegaraan dari 69 orang, beberapa di antaranya berhubungan, setelah menuduh mereka bersimpati dengan Iran dan “berkolusi dengan entitas asing”. Langkah ini dilakukan setelah Tehran melakukan serangan terhadap fasilitas di Bahrain sebagai bagian dari perang yang diluncurkan terhadap Iran oleh Israel dan Amerika Serikat.

Direktif yang dikeluarkan oleh Raja Hamad bin Isa Al Khalifa menyatakan bahwa semua 69 orang tersebut “berasal dari luar Bahrain”. Menurut hukum Bahrain, seseorang dapat dicabut kewarganegaraannya jika dianggap telah menyebabkan kerusakan pada negara tersebut atau menunjukkan ketidaksetiaan.

London-based Bahrain Institute for Rights and Democracy menggambarkan langkah ini sebagai “berbahaya” dan pelanggaran hukum internasional.

Organisasi tersebut mengatakan individu-individu tersebut belum diidentifikasi secara publik, dan belum jelas apakah mereka sudah ditangkap, apakah mereka berada di dalam atau di luar Bahrain, dan apakah mereka memiliki kewarganegaraan lain.

Serangan Iran

Tehran mulai menyerang tetangganya di Teluk pada 28 Februari, tidak lama setelah Israel dan Amerika Serikat memulai perang dengan melancarkan serangan terhadap Iran.

Tehran menuduh negara-negara yang diserang memberikan izin kepada AS untuk melakukan serangan dari wilayah mereka. Serangan balasan Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan besar pada situs militer AS di seluruh wilayah, termasuk pangkalan Angkatan Laut di Bahrain, yang diserang oleh misil dan drone.

Iran menghentikan serangannya terhadap tetangga-tetangga di Teluk pada 9 April, mengikuti diperkenalkannya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan. Negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen masih berlangsung tiga minggu kemudian.

Penduduk Syiah Bahrain telah lama menuduh pemerintah atas pengasingan mereka. Selama Musim Semi Arab pada tahun 2011, protes massal terhadap kepemimpinan negara pecah. Pemerintah Bahrain telah lama menyalahkan Iran atas menyulut kerusuhan terhadapnya.

Artikulli paraprakAkses ke halaman ini telah ditolak
Artikulli tjetër403 Dilarang
Putri Anggraini
Saya Putri Anggraini, sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Diponegoro. Karier saya di dunia media dimulai pada tahun 2016 sebagai penulis berita digital di Tribunnews. Sejak 2020, saya fokus meliput isu pendidikan, kesehatan masyarakat, dan kebijakan sosial. Bagi saya, jurnalisme adalah sarana untuk menyampaikan informasi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.