Pada Misa Malamnya untuk Damai, Kardinal Robert McElroy, Uskup Agung Washington D.C., mengatakan bahwa berdasarkan prinsip perang adil Katolik, inisiasi perang di Iran dan kelanjutannya “secara moral tidak sah” dan mengajak umat “berdoa agar gencatan senjata tetap berlangsung dan mengarah pada pondasi yang substansial untuk munculnya perdamaian di Timur Tengah.”
Menyambut undangan Sang Paus, Kardinal mengadakan Misa untuk perdamaian dan memulai homilinya dengan merenungkan perdamaian yang Tuhan berikan kepada kita melalui kebangkitan-Nya, yang menawarkan “kompas yang hanya penting yang kita perlukan untuk kehidupan kita di bumi ini,” serta tanggung jawab sebagai murid Tuhan “untuk menjadi pembawa perdamaian di dunia di mana kita tinggal.”
Di tengah perang yang tidak bermoral, Kardinal mengatakan bahwa kita harus bersikap tegas. “Kami memasuki perang ini bukan karena kebutuhan tetapi karena pilihan. Kami gagal mengejar jalur negosiasi dengan tekun sebelum beralih ke perang.”
Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa kami tidak memiliki niat yang jelas, tetapi malah melompat dari penyerahan tanpa syarat ke perubahan rezim hingga degradasi senjata konvensional hingga penghapusan bahan nuklir. “Setiap kegagalan kebijakan ini,” kata Kardinal, “merupakan kegagalan moral yang sama yang dalam prinsip perang adil Katolik membuat baik inisiasi perang ini maupun kelanjutannya secara moral tidak sah.”
Paus Leo menegaskan bahwa satu-satunya jalur yang diizinkan ajaran Katolik saat ini adalah berhenti selamanya dari pertempuran dan langkah-langkah yang tegas untuk membangun kondisi perdamaian yang abadi.
Sebagai bagian dari umat yang hidup di negara demokrasi yang kita cintai begitu dalam, kita harus mendoakan agar gencatan senjata tetap berlangsung dan mengarah pada pondasi substansial untuk kemunculan perdamaian di Timur Tengah.
Oleh karena itu, Kardinal McElroy mengatakan bahwa kita harus berdoa lebih keras lagi. Selain berdoa, kita juga harus bertindak. “Sangat mungkin bahwa negosiasi akan gagal karena sikap keras kepala dari salah satu pihak, dan presiden kita akan kembali memasuki perang yang tidak bermoral tersebut.”
Sebagai murid Yesus Kristus yang dipanggil untuk menjadi pembawa perdamaian di dunia, kita harus bersatu bersuara: Tidak. Bukan atas nama kita. Bukan pada saat ini. Bukan dengan negara kita.”





