Ketika hari menyambut fajar, nada-nada menghantui dari Last Post tembus kegelapan di Australian War Memorial di Canberra
Seorang pemain terompet berdiri di samping Batu Pengingat, disinari cahaya lembut, dengan tulisan: “Nama mereka kekal selama-lamanya.”
Anzac Day memiliki tempat hampir sakral dalam psikologi Australia: saat bangsa itu berhenti sejenak untuk memberi penghormatan kepada mereka yang berdinas dalam perang dan operasi militer.
Bagi banyak orang, semangat Anzac yang tercipta di Gallipoli selama kampanye gagal delapan bulan mendukung pasukan Inggris untuk merebut Konstantinopel (Istanbul modern) menggambarkan nilai-nilai yang suka dilihat oleh Australia dalam diri mereka: keberanian, persahabatan, dan pengorbanan.
Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, keinginan untuk mengingat semakin mengajukan pertanyaan sulit tentang pertanggungjawaban, budaya militer, dan persisnya apa yang diminta bangsa itu untuk dihormati.
Pada tahun 2020, Laporan Brereton yang bersejarah menemukan bukti kredibel dari 39 pembunuhan yang tidak sah oleh pasukan khusus Australia di Afganistan, mengirimkan gelombang kejut di seluruh negeri dan memicu koreksi lebih lanjut terhadap perilaku Australia dalam perang.
Lalu, awal bulan ini, terjadi penangkapan mantan kopral Special Air Service Australia Ben Roberts-Smith, prajurit hidup yang paling dihormati di Australia, yang didakwa dengan lima tuduhan kejahatan perang pembunuhan. Roberts-Smith dengan tegas menyangkal perbuatannya dan bertekad untuk melawan tuduhan tersebut.
Kepunahannya dari pahlawan perang terkenal hingga pahlawan perang yang dituduh menimbulkan pertanyaan yang membingungkan: Bisakah Australia menghormati pelayanan militer sambil menghadapi dugaan kesalahan yang dilakukan atas namanya?
[Teks oleh Anna Whitelaw]
– Diubah untuk dimuatkan di majalah SBS News Online – Fakta Cek: Informasi di artikel ini diverifikasi sebelum diterbitkan. Provinsi Fakta dan Tinjauan Sejarah: Oleh Anna Whitelaw





