MEDAN – Kabar tentang kondisi kesehatan legenda PSMS Medan, Tumsila, menjadi perhatian serius bagi pecinta sepakbola, terutama di Sumatera Utara. Tokoh yang dulu dijuluki “Kepala Emas” kini terbaring lemah di kediamannya di Medan.
Di tengah situasi ini, pengamat sepakbola Ronny Tanuwijaya datang langsung dari Jakarta untuk berkunjung. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan, melainkan bentuk penghormatan dan doa untuk seorang legenda yang telah membuat nama daerah dan Indonesia terkenal.
“Saya datang khusus untuk melihat kondisinya dan mendoakan agar segera sembuh,” kata Ronny dengan nada empati.
Nama Tumsila dulu begitu besar. Di masa kejayaannya, ia bukan hanya seorang pemain biasa, melainkan simbol kekuatan PSMS Medan. Sundulannya yang tajam menjadi mimpi buruk bagi lawan, sekaligus sumber kebanggaan bagi publik Medan. Dari lapangan hijau Bangladesh hingga kompetisi Perserikatan Bangsa-Bangsa, catatan prestasinya masih dikenang hingga saat ini.
Ia juga membawa PSMS Medan meraih kejayaan, termasuk memenangkan Piala Aga Khan dan mendominasi Perserikatan selama beberapa musim berturut-turut. Prestasi ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan warisan yang membentuk identitas sepakbola Medan.
Sekarang, ketika tubuhnya melemah, kenangan atas kejayaan itu terasa semakin kontras. Tokoh yang dulu begitu perkasa di lapangan, kini membutuhkan dukungan dan doa dari banyak pihak.
Ronny juga berharap generasi muda, terutama para pemain PSMS Medan saat ini, tidak melupakan sosok Tumsila. Menurutnya, semangat, dedikasi, dan cinta Tumsila terhadap sepakbola patut dijadikan teladan.
“Bakat sepakbola di Medan sangat besar. Hanya bagaimana meniru semangat seperti yang dimiliki Tumsila,” tambahnya.
Di balik kesunyian rumah tempat Tumsila beristirahat, terdapat harapan besar: bahwa sang legenda akan segera pulih, dan merasakan hangatnya perhatian dari dunia yang pernah dibanggakannya.






