Jakarta. Presiden Prabowo Subianto pergi ke Moskow pada Minggu malam untuk bertemu dengan mitra Rusianya, Vladimir Putin, untuk kemungkinan kesepakatan minyak.
Prabowo sedang melakukan perjalanan ketiganya ke Rusia ketika kepanikan energi melanda dunia akibat perang Iran. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan bahwa kedua pemimpin akan membahas isu strategis, termasuk minyak.
“[Para pemimpin akan membahas] keamanan energi. [Indonesia] akan terus bekerja sama dengan pemerintah Rusia dan memastikan pasokan energi yang stabil di negara tersebut, termasuk ketersediaan minyak,†kata Teddy.
Geopolitik saat ini juga akan menjadi topik utama lainnya, menurut Teddy, mengacu pada perang Iran. Dia menambahkan: “Indonesia akan mengekspresikan posisi strategisnya dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.â€
Prabowo diperkirakan akan mendarat di Moskow pada pagi hari waktu setempat dengan pembicaraan Putin dijadwalkan untuk siang hari. Menteri Energi Bahlil Lahadalia telah menunjukkan minat Indonesia untuk membeli minyak Rusia. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov mengatakan kepada pers pada akhir Maret bahwa negaranya terbuka untuk kesepakatan tersebut. Namun, Moskow akan memberikan minyak dengan harga “komersial” saat ditanyai apakah akan memberikan diskon kepada Jakarta.
“Jika Indonesia membutuhkan [minyak], beritahu kami, dan Anda akan mendapatkannya. Ini adalah harga komersial. Sebagian besar perusahaan minyak Rusia dimiliki secara privat, jadi ini hanyalah hubungan komersial,†kata Tolchenov.
Kunjungan terakhir Prabowo ke Rusia adalah pada Desember 2025.
Rusia adalah produsen minyak terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi.
Sekitar 25% perdagangan minyak laut global melewati Selat Hormuz, yang telah diblokir Iran sebagai balasan atas serangan Februari yang diluncurkan oleh AS dan Israel. Jakarta telah berusaha untuk mendapatkan akses ke Hormuz karena dua kapal tanker tidak dapat keluar dari jalur air yang sempit tersebut. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai  “memerangi setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz”, lebih memperketat krisis energi yang sedang berlangsung.
Harga patokan minyak global Brent melonjak menjadi $102 per barel menyusul ancaman Hormuz terbaru Trump.






