Guru besar, guru, dan pejabat pendidikan dari lebih dari 30 sekolah trilingual di seluruh Indonesia berkumpul di Sekolah Trilingual Puhua di Jawa Tengah pada hari Sabtu untuk forum pendidikan bahasa Tionghoa.
Acara tersebut menandai ulang tahun ke-120 Sekolah Tionghoa Purwokerto, ulang tahun ke-20 Sekolah Trilingual Puhua, dan ulang tahun pertama Kelas Konfusius sekolah.
Kelas Konfusius ini didirikan oleh Universitas Baoding, Grup Pendidikan Sekolah Menengah Baoding dan Sekolah Trilingual Puhua, dan diresmikan pada Januari 2025. Ini menjadi Kelas Konfusius pertama di Indonesia.
Selama acara tersebut, dua instalasi seni besar yang terbuat dari payung kertas merah, putih, dan biru diresmikan di aula. Payung-payung itu membentuk frasa seperti “Pendidikan untuk Semua” dan “Aku Cinta Indonesia,” mencerminkan filosofi pendidikan sekolah yang telah lama dipegang.
Mandarin, Indonesia, dan Inggris terdengar di seluruh kampus, di mana bahasa tidak hanya dipandang sebagai mata pelajaran yang harus dipelajari, tetapi juga sebagai cara untuk menghubungkan orang dari latar belakang yang berbeda.
Di antara sekolah trilingual di Indonesia, Puhua bukanlah yang terbesar, tetapi telah menjadi contoh noteworthy dari pendidikan bahasa Tionghoa. Sekarang sekolah ini memiliki lebih dari 1.000 siswa di dua kampus.
Chen Tao, kepala sekolah, mengatakan bahwa sekarang lebih banyak keluarga lokal yang melihat bahasa Tionghoa bukan sekadar sebagai bahasa tambahan, melainkan sebagai jalan menuju peluang pendidikan dan profesional yang lebih luas.
Perubahan itu terutama terlihat di kelas.
Opsie Emalia Putri, seorang guru Indonesia yang pernah belajar di Guangzhou dan Tianjin, mengatakan bahwa siswa sekarang belajar bahasa Tionghoa melalui kegiatan langsung seperti pemotongan kertas, kaligrafi, musik tradisional, dan catur Tiongkok. “Bagi banyak siswa, bahasa Tionghoa bukan lagi sesuatu yang harus diingat,” katanya. “Hal itu menjadi sesuatu yang bisa mereka alami.”
Guru-guru mengatakan bahwa pengaruh tersebut seringkali meluas di luar sekolah. Orangtua yang menghadiri acara sekolah kadang mencoba menulis karakter Tionghoa sendiri setelah melihat apa yang dipelajari oleh anak-anak mereka, membantu budaya Tionghoa masuk ke dalam kehidupan keluarga dengan cara alami.
Bagi orangtua seperti Tifany dan Meliana, yang anak-anaknya belajar menari Tionghoa tradisional dan Guzheng, nilai sekolah tersebut terletak pada pembelajaran bahasa dan pemahaman budaya. Mereka mengatakan bahwa mereka akan mendukung anak-anak mereka jika nantinya memilih untuk melanjutkan studi mereka di Tiongkok.
Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di Beijing Yudil Chatim mengatakan bahwa yang paling mengesankan baginya adalah inklusivitas sekolah, dengan siswa dari berbagai latar belakang etnis dan agama belajar bersama di satu kampus.
Ye Su, konsul jenderal Tiongkok di Surabaya, mengatakan bahwa sekolah trilingual telah menjadi model penting bagi pendidikan bahasa Tionghoa di Indonesia, sementara Kelas Konfusius Puhua menawarkan cara baru bagi pemuda Indonesia untuk lebih memahami Tiongkok.
Sjahriati Rochmah, asisten Sekretariat Kabinet Indonesia, mengatakan bahwa pentingnya sekolah tersebut terletak dalam membantu anak-anak dari latar belakang yang berbeda tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama.
Setelah setahun terakhir, Kelas Konfusius telah berkembang di luar kampus melalui pameran budaya, program kaligrafi, dan kegiatan bahasa di universitas dan komunitas lokal.
Zhang Jinghuo, direktur Tiongkok Kelas Konfusius, mengatakan perannya sekarang lebih dari sekadar pengajaran bahasa. “Sekarang menjadi sebuah jembatan, menghubungkan Tiongkok dan Indonesia, dan menghubungkan sekolah dengan masyarakat lebih luas.”




