Asosiasi Wanita Katolik Indonesia (WKRI) telah meluncurkan program Pelatihan Pelatih (ToT) selama empat hari di Jakarta pusat mulai 23 hingga 26 April untuk 100 wanita terpilih dari seluruh Nusantara Indonesia.
Didirikan sejak tahun 1924, WKRI telah aktif selama 102 tahun, mempromosikan perlindungan bagi wanita, anak-anak, dan individu yang rentan di Indonesia.
Elly Kusumawati Handoko, ketua presidium dewan nasional WKRI, mengatakan inisiatif ini mencerminkan misi organisasi untuk bergerak dari advokasi ke tindakan nyata.
“Program Pelatihan Pelatih ini merupakan ekspresi nyata bahwa organisasi kami hadir bukan hanya sebagai saksi sejarah, tetapi sebagai agen perubahan,” katanya. “Seratus wanita yang kami latih akan menjadi penjaga keadilan sosial di wilayah masing-masing, dari Sabang hingga Merauke.”
Dia menambahkan bahwa program ini memberikan peserta keterampilan dalam pencegahan, pendampingan, dan advokasi dalam kasus kekerasan berbasis gender, memungkinkan mereka bekerja bersama lembaga pemerintah untuk mencapai komunitas rentan.
WKRI telah bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak tahun 2024 dalam berbagai inisiatif. Ini termasuk seminar nasional tentang mencegah kekerasan seksual, kampanye “Stop Kekerasan,” dan pelatihan kewirausahaan untuk 640 wanita korban di Jawa, termasuk di Tangerang, Depok, dan Karanganyar.
Program ToT menandai puncak dan kelanjutan dari kolaborasi ini.
Ibu Arifatul Choiri Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menekankan pentingnya kemitraan antara pemerintah dan masyarakat sipil.




