Beranda Indonesia Subsidi bahan bakar fosil, biaya tinggi melambatkan transisi energi di pedesaan Indonesia

Subsidi bahan bakar fosil, biaya tinggi melambatkan transisi energi di pedesaan Indonesia

38
0

ENERGI RENEWABLE BELUM MENYERAP KEMAJUAN DI DESA-DESA INDONESIA

Penguasaan energi terbarukan masih belum mengalami momentum di lebih dari 84.000 desa di Indonesia, demikian disimpulkan dalam laporan baru, saat pemerintah negara terbesar keempat di dunia berjanji untuk mencapai transformasi energi yang radikal dalam dekade mendatang.

“Lampu jalan desa meningkat, sementara penggunaan rumah tangga menurun karena biaya awal yang tinggi, insentif minimal, dan dominasi subsidi bahan bakar fosil,” menurut Indeks Kesiapan Transisi Energi Desa, laporan yang diterbitkan oleh think tank yang berbasis di Jakarta, Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) dan Greenpeace.

Badan statistik Indonesia mencatat ada 84.291 desa di negara kepulauan terbesar di dunia hingga tahun 2025. Sekitar 1,4 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta masih belum memiliki akses ke listrik sama sekali, menurut Eniya Listiani Dewi, pemimpin energi terbarukan di kementerian energi dan pertambangan Indonesia.

“Sebelumnya, banyak desa memiliki inisiatif energi bersih, termasuk pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga mikro-hidro, dan lain-lain, tetapi jumlah inisiatif seperti itu sebenarnya mengalami penurunan,” kata Wahyudi Askar di Celios.

Meskipun kemajuan teknologi dan ketersediaan perangkat keras tenaga surya yang lebih murah, jumlah total desa dan kecamatan yang melaporkan penggunaan listrik tenaga surya di rumah tangga mengalami penurunan dari 4.176 pada tahun 2021 menjadi 3.076 pada tahun 2024, dengan penurunan sebesar 26,4 persen.

Namun, jumlah desa yang menggunakan lampu jalan yang ditenagai oleh fotovoltaik meningkat selama periode yang sama.

Sebanyak 24.766 desa atau daerah permukiman menggunakan tenaga surya untuk menyuplai lampu jalan pada tahun 2021, dan jumlah ini meningkat sebesar 20,1 persen selama periode tiga tahun menjadi 30.476 total.

Selama lebih dari satu dekade, pemerintah daerah dan organisasi amal sering menggunakan sistem surya dasar yang didukung oleh baterai untuk memberikan penerangan bagi komunitas yang terputus listrik untuk pertama kalinya. Namun, dalam beberapa kasus, rumah tangga atau komunitas tersebut tidak memiliki kapasitas untuk memperbaiki sistem setelah komponen mengalami kerusakan.

Ketimpangan regional masih ada, demikian dicatat dalam laporan, dengan area perkotaan yang lebih maju dan kaya di Pulau Jawa dan Provinsi Kalimantan Timur, di Pulau Kalimantan, mencatat kemajuan dalam penggunaan energi terbarukan, sementara daerah pedesaan dan terpencil di Indonesia bagian timur melaporkan penurunan.

Meskipun sinar matahari yang melimpah di sepanjang garis khatulistiwa, Indonesia tertinggal dari setiap negara G20 lainnya dalam mengadopsi energi surya. Kurang dari setengah persen dari jaringan nasional yang dioperasikan oleh perusahaan listrik milik negara, PLN, ditenagai oleh fotovoltaik.

Sebuah lapangan surya berkapasitas 192 megawatt dibuka pada tahun 2023, sementara reformasi terbatas telah memungkinkan pemasangan fotovoltaik pada rumah dan bangunan publik menjadi lebih mudah.

Namun, para peneliti mengatakan Indonesia harus menginstal kapasitas baru sebesar 5 gigawatt setiap tahun untuk mencapai tujuan jangka panjangnya 75 gigawatt energi terbarukan pada tahun 2040.

“Itu setara dengan mendirikan 26 proyek lapangan surya terbesar Indonesia, proyek surya mengapung 192 MW Cirata, setiap tahun selama 15 tahun ke depan,” tulis Grant Hauber untuk Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), sebuah think tank berbasis di AS.

Pemerintah otoriter Orde Baru Indonesia mengawasi sistem politik yang sangat terpusat selama beberapa dekade, hingga protes yang dipimpin oleh mahasiswa menggulingkan Presiden Suharto pada tahun 1998.

Dekonsentrasi yang diperkenalkan pada tahun 2001 mendelegasikan kekuatan signifikan dan transfer fiskal dari pusat ke pemerintah kabupaten, sebelum sebuah undang-undang pada tahun 2014 kemudian memperluas wewenang kepala desa dalam mengawasi pendidikan lokal, infrastruktur, layanan kesehatan dasar, dan sanitasi.

Celios dan Greenpeace mengatakan pemerintah sebaiknya lebih menyesuaikan transisi energi dengan pembangunan ekonomi desa dengan mengalihkan subsidi bahan bakar fosil ke energi terbarukan, dengan mengembangkan micro-hidro dan energi surya, serta memberikan peran yang lebih besar kepada desa dalam pembentukan kebijakan.

“Ketika harga minyak global naik hari ini, dan transisi energi di Indonesia berjalan lambat, kita akan mengalami konsekuensi serius,” kata Wahyudi dari Celios. “Studi ini adalah cerminan dari transisi energi yang lambat di Indonesia.”

Cerita ini diterbitkan dengan izin dari Mongabay.com.