Xurya meningkatkan adopsi solar di Indonesia, setelah menyelesaikan lebih dari 300 proyek pada 2025 Dipublikasikan pada 24 April 2026
Seiring volatilitas energi mengubah wajah Asia Tenggara, adopsi solar semakin didorong oleh stabilitas biaya dan ketahanan operasional.
Saat Asia Tenggara menavigasi lingkungan energi yang lebih tidak stabil, peran energi terbarukan semakin beralih dari keberlanjutan menuju ketahanan ekonomi.
Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan wilayah tersebut didukung oleh biaya energi yang relatif stabil. Namun, dinamika ini mulai bergeser. Ketegangan geopolitik belakangan ini telah menyumbang kepada kenaikan harga energi, peningkatan tekanan fiskal, dan efek inflasi yang lebih luas di pasar-pasar berkembang. Di Indonesia, subsidi energi yang awalnya ditetapkan sekitar US$22 miliar untuk tahun 2026 membutuhkan tambahan sekitar US$6 miliar untuk mempertahankan harga bahan bakar saat ini, menambah tekanan pada keseimbangan fiskal.
Di seluruh Asia Tenggara, di mana ekonomi tetap tergantung secara struktural pada impor bahan bakar fosil, dinamika ini menjadi semakin signifikan bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Pada saat yang sama, investasi energi bersih di region ini mencapai sekitar US$47 miliar pada tahun 2025, mencerminkan kemajuan yang berkelanjutan menuju campuran energi yang lebih beragam.
Dalam praktiknya, transisi ini tergantung pada seberapa efektif solusi-solusi diterapkan.
“Pertemuan ini tidak lagi terbatas pada emisi atau target keberlanjutan. Ia semakin terkait dengan ketahanan dan stabilitas ekonomi,” ujar Helen Wong, Mitra Manajemen, ACV Capital
Xurya, penyedia solusi energi solar terkemuka di Indonesia, didukung oleh ACV Capital, menunjukkan bagaimana solusi energi terbarukan diterapkan dalam skala besar di segmen komersial dan industri.
Didirikan pada tahun 2018, Xurya telah berfokus pada memungkinkan adopsi solar dengan menghilangkan hambatan biaya awal melalui model solar atap tanpa modal. Hingga akhir 2025, perusahaan ini telah menyelesaikan lebih dari 300 proyek solar di seluruh Indonesia, mewakili lebih dari 200 MWp kapasitas terinstalasi di sistem on-grid dan off-grid hibrida.
Tingkat implementasi ini mencerminkan permintaan yang meningkat dari pengguna industri yang mencari efisiensi biaya yang lebih besar dan keandalan energi yang lebih tinggi. Solar semakin diintegrasikan ke dalam strategi operasional inti, bukan hanya dianggap sebagai inisiatif keberlanjutan yang mandiri.
Eka Himawan, Direktur Utama Xurya, mengatakan, “Kami melihat energi solar menjadi bagian integral dari strategi operasional jangka panjang perusahaan di Indonesia. Saat kerangka kerja regulasi menjadi lebih jelas, kami melihat peluang untuk memperkuat posisi kami sebagai perusahaan energi terbarukan lokal dengan standar global.”
Secara paralel, Xurya telah fokus pada memperkuat dasar-dasar bisnis yang mendasari. Hal ini termasuk pengembangan proyek-proyek yang dapat dipercaya oleh bank, peningkatan kualitas instalasi untuk memenuhi standar nasional dan internasional, serta peningkatan kemampuan layanan pasca-instalasi.
Perusahaan juga telah mulai diversifikasi ke segmen off-grid hibrida dan Independent Power Producer (IPP), mencerminkan permintaan yang berkembang untuk solusi energi yang lebih andal dan efisien biaya, terutama dari pengguna industri yang membutuhkan kepastian pasokan.
Selain ekspansi komersial, Xurya terus berinvestasi dalam pengembangan ekosistem. Melalui Solar Academy Indonesia (SAI), yang diluncurkan pada tahun 2024, perusahaan ini sedang mengatasi hambatan struktural penting dalam sektor ini: ketersediaan bakat lokal yang terampil.
Hingga 2025, SAI telah melatih ratusan peserta di mitra-mitra lokal bidang Engineering, Procurement, dan Construction, dengan program-program yang difokuskan pada kualitas instalasi, keamanan sistem, dan mitigasi risiko. Inisiatif ini diharapkan akan berkembang lebih lanjut pada tahun 2026 karena skala proyek dan kompleksitas meningkat.
Philip Effendy, VP Operasional Xurya, menambahkan, “Kami percaya transisi energi harus didukung oleh kemampuan lokal yang kuat. Tanpa bakat lokal yang terampil, pertumbuhan industri tidak akan berkelanjutan.”
Pengembangan Xurya mencerminkan pergeseran lebih luas dalam lanskap energi Asia Tenggara, di mana solusi-solusi terkait iklim berkembang menjadi model-model infrastruktur yang lebih mapan yang mengatasi kendala ekonomi nyata.
Bagi investor, ini mengubah kembali iklim dari alokasi tematik menjadi komponen inti dalam penilaian risiko. Saat volatilitas energi, paparan rantai pasokan, dan tekanan biaya semakin terhubung, solusi-solusi yang dapat diskalakan dengan kemampuan pelaksanaan yang kuat menjadi semakin relevan.
Ekspansi Xurya melintasi proyek, segmen, dan inisiatif-ekosistem mencerminkan arah adopsi solar di Indonesia, saat sektor ini berkembang menuju penerapan dalam skala yang lebih besar dan lebih terintegrasi.
“Bagi investor, ini bukan lagi pertimbangan yang jauh. Ini adalah komponen aktif dari bagaimana modal dinilai dan diterapkan di seluruh region,” kata Helen.



