Di Jenewa, Direktur Jenderal berpartisipasi dalam Konferensi Kepemimpinan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) 2026 di Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN), di mana beliau menekankan pentingnya tata kelola antisipatif untuk teknologi yang berkembang, termasuk kecerdasan buatan, berlandaskan etika, hak asasi manusia, dan kerja sama internasional.
Beliau bertemu dengan Federal Councillor Ignazio Cassis, yang menjadi kepala Departemen Luar Negeri Federal Swiss, memperkuat kemitraan yang kuat antara Swiss dan UNESCO serta komitmen bersama terhadap multilateralisme, diplomasi inklusif, dan kerja sama internasional. Beliau juga bertemu dengan Direktur Jenderal Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa (UNOG), Tatiana Valovaya, untuk memperkuat kerja sama jangka panjang antara UNESCO dan PBB Jenewa dan membahas peningkatan kohesi di seluruh sistem PBB. Direktur Jenderal juga mengunjungi Biro Internasional Pendidikan (IBE), di mana beliau bertemu dengan staf dan anggota dewan dan bertukar informasi tentang pekerjaan terus-menerus institusi ini dan prioritas masa depannya.
Di Uni Telekomunikasi Internasional (ITU), sebuah Memorandum Persefahaman baru ditandatangani dengan Sekretaris Jenderal, Doreen Bogdan-Martin, memperkuat kerja sama dalam tata kelola kecerdasan buatan, transformasi digital, dan konektivitas untuk pendidikan. Perjanjian tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk memastikan bahwa perubahan teknologi mendukung pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Direktur Jenderal juga menyampaikan pidato di Dewan ITU untuk membicarakan konektivitas, pendidikan, teknologi yang berkembang, dan memperkuat koordinasi di seluruh sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai isu-isu tata kelola digital.
Kunjungannya ke Jenewa meliputi pertukaran dengan yayasan, lembaga filantropi, dan pelaku sektor swasta, memperkuat pentingnya kemitraan lintas sektor untuk memajukan pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, dan informasi. Pertemuan dengan organisasi filantropi berbasis di Jenewa menyoroti tren evolusi dalam filantropi Swiss, terutama penekanan yang semakin meningkat pada kolaborasi berbasis kepercayaan, fleksibilitas, akses ke keahlian, dan dampak yang terukur dalam keterlibatan dengan UNESCO dan sistem PBB lebih luas.
Dalam sebuah pertemuan makan siang terpisah dengan perwakilan dari rumah-rumah pembuat jam besar Swiss dan Grand Prix d’Horlogerie de Genève, pencatatan UNESCO atas ketrampilan pembuatan jam dalam Daftar Warisan Budaya Tak Benda menjadi latar belakang bagi pertukaran mengenai bagaimana warisan budaya dapat dikaitkan dengan inovasi dan pengembangan keterampilan. Perhatian khusus diberikan pada transmisi ketrampilan kepada generasi muda, serta hubungannya dengan pendidikan, keberlanjutan, dan kelangsungan budaya.




