Beranda Indonesia Indonesia, AS menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan besar

Indonesia, AS menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan besar

74
0

Tanda tangan kemitraan pertahanan mengikuti laporan bahwa Washington sedang mencari akses lintasan udara di Indonesia untuk pesawat militer AS.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memuji pembentukan “kemitraan kerjasama pertahanan besar” dengan Indonesia, mengatakan hal tersebut menegaskan “kekuatan dan potensi” ikatan dengan Jakarta untuk menjaga stabilitas di kawasan Asia Pasifik.

Hegseth menerima Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin di Pentagon pada hari Senin, tempat kesepakatan ditandatangani.

“Ini [kemitraan] menunjukkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat penangkalan regional, dan memajukan komitmen bersama kita untuk perdamaian melalui kekuatan,” kata Hegseth, seperti yang dikutip dalam pernyataan Departemen Pertahanan.

Menteri pertahanan AS juga mengatakan hubungan keamanan Washington dan Jakarta “aktif dan berkembang”, mencatat bahwa kedua negara ikut serta dalam lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahun.

Pernyataan bersama tentang kemitraan baru tersebut menyatakan bahwa kedua belah pihak telah setuju untuk bekerja sama dalam mengembangkan “kapabilitas asimetris yang canggih, memimpin teknologi pertahanan generasi mendatang di domain maritim, subpermukaan, dan sistem otonom”, serta meningkatkan kesiapan operasional.

“Kami hadir sebagai delegasi Indonesia dengan semangat yang sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, yang harus berlangsung untuk generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Sjafrie.

“Kami bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional kita,” tambahnya.

Penandatanganan kemitraan tersebut terjadi sehari setelah laporan di Indonesia bahwa kedua negara sedang membahas proposal untuk memberikan akses pesawat militer AS ke wilayah udara Indonesia.

AS sedang mencari akses lintasan udara “serba guna” untuk pesawat militer melalui wilayah udara Indonesia, beberapa media melaporkan pada hari Minggu, menambahkan bahwa Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah menyetujui proposal tersebut.

Menanggapi laporan tersebut, Kementerian Pertahanan di Jakarta mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kedua negara masih mendiskusikan “Surat Niat”, dan hanya draf awal tentang lintasan udara sedang dibahas secara internal. Draf tersebut bukanlah final atau mengikat, tambah kementerian tersebut.

Kontrol atas wilayah udara Indonesia berada di tangan Indonesia, tambah Kementerian Pertahanan, mengatakan bahwa kesepakatan dengan negara lain akan melindungi kedaulatan Indonesia dan mematuhi hukum Indonesia.

“Kesepakatan itu belum final. Itu tidak mengikat secara hukum. It tidak dapat digunakan sebagai dasar kebijakan pemerintah resmi,” kata juru bicara Menteri Pertahanan Sjafrie, Rico Ricardo Sirait, kepada Jakarta Globe.

“Otoritas, kendali, dan pengawasan atas wilayah udara Indonesia sepenuhnya berada di negara kami. Setiap peraturan potensial akan menjamin wewenang penuh Indonesia untuk menyetujui atau menolak setiap aktivitas di ruang udara nasional,” katanya kepada media tersebut.

Prabowo dijadwalkan bertemu dengan rekan sejawat Prancisnya, Emmanuel Macron, di Paris pada hari Selasa, hanya sehari setelah dia mengadakan pembicaraan dengan Vladimir Putin dari Rusia mengenai minyak, kata pemerintah di Jakarta, seperti yang dilaporkan oleh AFP.

Bulan lalu, pemerintahan Prabowo mengumumkan penyisihan bahan bakar dan mewajibkan kebijakan bekerja dari rumah selama satu hari per minggu untuk pegawai negeri guna menghemat stok energi karena harga meningkat di tengah perang AS-Israel melawan Iran.