Beranda Dunia Blog: Dari Florida ke Israel: Perjuangan Melawan Hukum Syariah

Blog: Dari Florida ke Israel: Perjuangan Melawan Hukum Syariah

30
0

Blog: Dari Florida ke Israel: Perjuangan Melawan Hukum SyariahBaru-baru ini, Gubernur Florida Ron DeSantis memperkuat prinsip hukum yang jelas: Hukum Syariah dan segala bentuk hukum asing atau agama tidak dapat diterapkan di negara bagian tersebut jika bertentangan dengan Konstitusi. Pesannya langsung dan tidak ambigu. Di Florida, hanya ada satu sistem hukum dan berlaku sama bagi semua orang.

Namun Florida tidak sendirian.

Di seluruh Amerika Serikat, banyak negara bagian telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat prinsip ini. Negara-negara seperti Oklahoma, Tennessee, Louisiana, Arizona, Kansas, Alabama, North Carolina, South Dakota dan Missouri telah mengeluarkan undang-undang atau amandemen konstitusi yang membatasi penggunaan sistem hukum asing, termasuk hukum agama, di dalam pengadilan mereka.

Sebagian besar undang-undang ini tidak menyebutkan syariah secara langsung. Sebaliknya, undang-undang tersebut memperkuat aturan yang lebih luas: tidak ada hukum asing atau hukum agama yang dapat diterapkan jika melanggar Konstitusi AS. Bahkan di negara-negara yang belum mengesahkan undang-undang tersebut, prinsipnya tetap sama. Pengadilan dapat mengakui perjanjian pribadi, termasuk arbitrase agama, namun hanya jika perjanjian tersebut sepenuhnya mematuhi hukum Amerika. Tidak ada sistem hukum yang sejajar dengan kewenangan resmi.

Ide panduannya sederhana: satu hukum untuk semua.

Namun di Israel, terdapat kenyataan yang sangat berbeda.

Di Israel, tidak ada “hukum Syariah” umum yang menggantikan hukum negara. Namun, terdapat pengadilan Syariah resmi bagi warga Muslim, yang beroperasi sebagai bagian dari sistem hukum negara di bawah pengawasan pemerintah. Wewenang mereka terutama terbatas pada urusan status pribadi seperti perkawinan, perceraian, hak asuh anak, tunjangan dan, dalam beberapa kasus, warisan. Pengaturan serupa juga berlaku untuk pengadilan kerabian Yahudi dan pengadilan gerejawi Kristen.

Pengadilan syariah tidak menangani hukum pidana, keamanan nasional, perpajakan atau hak-hak sipil umum. Hukum Israel selalu mengesampingkan mereka. Meskipun mereka beroperasi secara nasional sebagai bagian dari sistem negara, dalam praktiknya mereka terutama melayani masyarakat Muslim.

Di sinilah perbedaan inti muncul.

Meskipun Amerika Serikat, meskipun tidak memiliki undang-undang yang seragam di semua negara bagian, tetap mempertahankan standar hukum tunggal berdasarkan Konstitusi, Israel secara resmi mengakui pengadilan agama sebagai bagian dari struktur hukumnya dalam urusan keluarga.

Salah satu contoh yang sering mengemuka dalam perdebatan ini adalah poligami. Hukum Israel melarangnya untuk semua warga negara. Namun, dalam praktiknya terdapat beberapa kasus, khususnya di kalangan komunitas Muslim, di mana pernikahan poligami terjadi melalui kerangka agama seperti pengadilan Syariah atau pengaturan di luar sistem sipil standar, dengan penegakan hukum yang tidak konsisten. Hal ini menciptakan persepsi penerapan hukum yang tidak setara, karena warga negara Yahudi sangat terikat dengan larangan negara.

Para pengkritik berpendapat bahwa ketika kerangka hukum agama berjalan berdampingan dengan hukum negara, bahkan dalam kapasitas yang terbatas, hal ini dapat menyebabkan kesenjangan dalam penegakan hukum, realitas yang tidak setara, dan pada akhirnya melemahkan prinsip perlakuan yang sama dalam satu sistem hukum yang terpadu.

Contoh kedua dapat kita lihat dalam persoalan perkawinan dan perceraian. Di Israel, tidak ada pilihan untuk pernikahan sipil di dalam negeri. Warga negara Yahudi harus menikah melalui pengadilan kerabian, sedangkan warga Muslim menikah melalui pengadilan Syariah dan warga Kristen melalui lembaga agama masing-masing. Artinya, status pribadi tidak ditentukan oleh sistem sipil tunggal, namun oleh otoritas agama yang terpisah, tergantung pada identitas seseorang.

Akibatnya, dua warga negara yang tinggal di negara bagian yang sama dapat menghadapi proses hukum yang berbeda dalam mengambil keputusan mendasar dalam hidup. Kritikus berpendapat bahwa struktur ini memperkuat perpecahan dibandingkan persatuan dan menimbulkan pertanyaan sulit mengenai kesetaraan di depan hukum.

Perdebatan tidak hanya terjadi di Florida. Di Texas, para pemimpin termasuk Gubernur Greg Abbott, Letnan Gubernur Dan Patrick dan aktivis Valentina Gomez telah mendorong untuk memastikan bahwa tidak ada hukum asing atau agama, termasuk kerangka berbasis Syariah, yang mempengaruhi sistem hukum. Posisi mereka mencerminkan upaya yang lebih luas untuk mempertahankan standar hukum tunggal.

Perbedaannya tetap mencolok.

Dalam satu sistem demokrasi, aturannya jelas dan ditegakkan secara konsisten: hukum konstitusional adalah yang utama dan berlaku sama bagi semua warga negara. Di sisi lain, berbagai kerangka hukum terus berjalan berdampingan dan dibentuk oleh identitas agama.

Pada akhirnya, suatu bangsa harus dibangun di atas satu landasan: satu konstitusi yang berlaku sama bagi seluruh warga negaranya, tidak peduli agama, latar belakang atau identitas mereka. Hanya dengan cara inilah negara ini dapat benar-benar mewujudkan cita-cita menjadi satu bangsa di bawah Tuhan, dengan keadilan bagi semua.

Maoz Druskin adalah seorang pengusaha dan penulis kelahiran Israel yang tinggal di Amerika Serikat. Tumbuh besar di Israel dan kemudian membangun kehidupannya di Amerika, ia menulis tentang identitas Yahudi, masyarakat dan politik Israel, serta tantangan moral dan politik yang dihadapi negara-negara demokrasi dari sudut pandang pribadi dan lintas budaya.