Beranda Budaya Pusatkan Suara Pribumi: Fowler mengundang pengunjung untuk memikirkan ulang tanah, budaya &...

Pusatkan Suara Pribumi: Fowler mengundang pengunjung untuk memikirkan ulang tanah, budaya & tanggung jawab

22
0

Pameran “Fire Kinship” di Fowler Museum at UCLA debut pada 22 Januari 2025, 15 hari setelah kebakaran LA Palisades dan Eaton yang tragis. Pameran tersebut telah ada selama lebih dari tiga tahun.

Direktur Fowler, Silvia Forni, menjelaskan bahwa pesan pameran bukanlah untuk memuja api, melainkan untuk menghormati lingkungan dan mempertimbangkan diri kita dalam hubungan dengan lingkungan. Fokusnya adalah pada komunitas penduduk asli California Selatan dan cara mereka berinteraksi dengan lahan melalui api sebelum kolonisasi.

Pameran ini ditutup pada 12 April 2026 setelah dikembangkan dengan bantuan dua kurator, Daisy Ocampo Diaz dan Lina Tejeda, serta berbagai penasihat. Ada juga pameran terkini, “Mountain Spirits: Rice and Indigeneity in the Northern Luzon Highlands, Filipina,” yang menyoroti kerjasama dengan masyarakat asli di Filipina dalam mengelola sawah beras.

Fowler, didirikan pada 1963 sebagai bagian dari UCLA, menampilkan lebih dari 120.000 objek dan menyelenggarakan berbagai acara seperti pemutaran film, meditasi, ceramah, dan konser. Pameran dan programnya mencerminkan misi museum untuk mengeksplorasi seni dan budaya global dengan penekanan pada Afrika, Asia, Pasifik, dan Amerika pribumi.

Stephen Acabado, profesor antropologi di UCLA, berperan dalam pembuatan pameran terkini yang mendokumentasikan teras beras Ifugao yang diakui oleh UNESCO. Objek ini dilindungi oleh Gerakan Simpan Teras Ifugao (SITMo) untuk meneruskan tradisi lokal dan antargenerasi.

Forni, direktur pameran, bertujuan untuk menjaga keterikatan budaya dan tradisi dengan artefak dan objek koleksi. Dia melihat hubungan antara objek seni dan identitas manusia, serta bagaimana keindahan terkait erat dengan pengalaman hidup individu.

Fowler Museum berperan dalam menciptakan ruang dialog dan hubungan yang terus berubah antara objek, masyarakat, dan budaya, tanpa hanya menjadi tempat bagi objek untuk mati. Pameran tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kesadaran akan nilai-nilai budaya dan adat.

(Informasi Konteks: Pameran ini menyoroti hubungan antara manusia, lingkungan, dan budaya dalam konteks seni dan artefak. Fakta bahwa pameran ini berfokus pada komunitas asli yang menggunakan api dalam manajemen lahan mereka secara tradisional.)

(Fact Check: Stephen Acabado memang menjadi bagian penting dalam membangun pameran dengan fokus pada teras beras Ifugao di Filipina. Selain itu, direktur pameran, Silvia Forni, benar-benar menekankan pentingnya keterikatan budaya dan tradisi dengan objek seni dan artefak.)