Peningkatan pesat dalam konten keuangan di TikTok menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli, karena data baru menunjukkan orang Amerika menghabiskan ratusan jam untuk menerima saran yang mungkin menyesatkan. Pada tahun 2025, rata-rata pengguna “FinTok” di AS menghabiskan waktu 416 jam untuk menelusuri video terkait keuangan, menurut survei terbaru, yang menyoroti semakin besarnya pengaruh platform tersebut terhadap keputusan keuangan pribadi.
Tren ini terutama terlihat di kalangan generasi muda Amerika. Sekitar 44% pengguna berusia muda mengatakan bahwa mereka memercayai nasihat keuangan dari media sosial, dibandingkan dengan hanya 24% pengguna dewasa yang lebih tua. Namun, kepercayaan itu sering kali harus dibayar mahal. Hampir 64% pengguna berusia 25 hingga 45 tahun melaporkan membuat keputusan keuangan yang kemudian mereka sesali setelah mengikuti saran online.
Analisis terpisah yang dilakukan BrokerChooser menyoroti risiko di balik tren digital ini. Setelah meninjau 100 video TikTok paling populer terkait perdagangan, peneliti menemukan bahwa 93% berisi konten yang berpotensi menyesatkan atau berbahaya. Hanya 2% yang menyertakan penafian dasar seperti peringatan mengenai risiko keuangan atau volatilitas pasar.
Adam Nasli, Kepala Analis di BrokerChooser, memperingatkan tentang implikasi dari kurangnya transparansi ini.†Tanpa peringatan ini, bahkan perdagangan dengan leverage dapat digambarkan sebagai jalur yang berisiko rendah dan langsung menuju keuntungan, tanpa penjelasan apa pun seputar volatilitas atau kemungkinan kehilangan uang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai tingkat perlindungan yang diberikan kepada pengguna media sosial, terutama mengingat kecepatan dan skala konsumsi konten keuangan online.†Pernyataan ini mencerminkan kesenjangan peraturan yang lebih luas dalam ekosistem keuangan digital. Berbeda dengan penasihat keuangan tradisional, banyak pembuat konten yang kurang memiliki pengawasan dan cenderung menyingkat strategi yang rumit menjadi video yang singkat dan menarik. Dalam ekonomi konten yang bergerak cepat saat ini, pengguna mungkin salah mengira kepercayaan diri dan presentasi sebagai kredibilitas, sehingga meningkatkan kemungkinan pengambilan keputusan yang kurang informasi.
BACA: Trump dan Bondi menggugat UU TikTok, menuduh adanya kekhawatiran akan pengaruh Tiongkok (6 Maret 2026)
Studi BrokerChooser juga menemukan bahwa 58% video secara aktif mempromosikan produk atau layanan keuangan, seperti kursus perdagangan atau “sistem” milik sendiri. Sementara itu, 40% video menampilkan pembuat konten yang menampilkan kekayaan atau gaya hidup mewah tanpa menjelaskan bagaimana hasil tersebut dicapai. Hanya 10% yang memberikan konteks bermakna.
Yang lebih memprihatinkan lagi, hanya 15% video yang menyertakan informasi perdagangan nyata. Sisanya berfokus pada pesan motivasi, gambaran gaya hidup, atau janji kekayaan cepat, seringkali tanpa bukti atau kredensial.
Nasli lebih lanjut menekankan keterbatasan media sosial sebagai sarana pendidikan.“Hampir 80% anak muda di Inggris kini memercayai saran dari finfluencer, dengan #FinTok menghasilkan sekitar 155 ribu postingan di TikTok dan #MoneyTok mengumpulkan lebih dari 3,2 juta postingan. Namun kenyataannya, video berdurasi 15 hingga 30 detik jarang sekali cukup untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan keuangan yang tepat.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar konten perdagangan di TikTok tidak menyertakan penyangkalan risiko dasar dan sering kali menampilkan kekayaan yang seharusnya diperoleh melalui perdagangan tanpa penjelasan berarti tentang bagaimana hasil tersebut dicapai. Hal ini menciptakan pandangan yang menyimpang, dan menganggapnya sebagai jalan cepat dan mudah menuju kebebasan finansial, bukan sebagai aktivitas yang rumit dan berisiko tinggi seperti yang ada di dunia nyata.
BACA: Visa O-1, influencer, dan OnlyFans: USCIS tidak menurunkan standar – bidang ini telah berkembang (7 Januari 2026)
Dalam skala besar, konten semacam ini dapat menyesatkan investor pemula dan menormalkan ekspektasi yang tidak realistis, yang pada akhirnya mendorong masyarakat untuk mengambil risiko finansial yang tidak sepenuhnya mereka pahami.
“Jika Anda serius ingin belajar berdagang, TikTok bukanlah tempat yang tepat untuk memulai. Carilah informasi terpercaya dari sumber terverifikasi, daripada influencer yang tidak terverifikasi mencoba menjual impian Anda. Selalu praktikkan uji tuntas: tanyakan sumbernya, verifikasi kredensial, dan jangan pernah menerima nasihat keuangan begitu saja.†IniPerspektif ini sejalan dengan meningkatnya seruan dari para pakar keuangan dan regulator yang mendesak adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap konten keuangan online. Ketika media sosial terus membentuk cara orang Amerika belajar tentang uang, kesenjangan antara hiburan dan keahlian masih menjadi tantangan yang kritis.
Pada saat yang sama, para ahli menekankan pentingnya skeptisisme dan penelitian. Meskipun platform seperti TikTok telah mendemokratisasi akses terhadap informasi keuangan, platform tersebut juga mengaburkan batas antara pendidikan dan promosi, sehingga membuat banyak pengguna rentan terhadap kesalahan yang merugikan.


