Beranda Indonesia Rupiah Indonesia Pecah 17.300/USD di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Rupiah Indonesia Pecah 17.300/USD di Tengah Ketegangan Timur Tengah

27
0

Berita Gotrade – Rupiah Indonesia menembus level psikologis Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis (23/04) pukul 10:33 waktu setempat. Langkah ini datang lebih awal dari prediksi analis yang telah menetapkan level ini untuk akhir April 2026, menjadikan rupiah mata uang terlemah di kawasan ASEAN selama sesi tersebut.

Trading Economics mencatat pasangan tersebut di Rp 17.295 per USD pada pukul 10:40 WIB, turun 108 poin atau 0,63 persen dari penutupan sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang meningkat baik dari ketegangan geopolitik eksternal maupun tagihan impor energi Indonesia.

Poin Penting: – Rupiah melewati Rp 17.300/USD pada 23 April 2026, menjadi mata uang terlemah di ASEAN selama sesi – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan rupiah terlalu rendah nilainya dibandingkan dengan fundamental – Analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan pasangan tersebut bisa mencapai Rp 17.400/USD pada akhir April

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengaitkan langkah ini terutama pada ketegangan geopolitik AS-Iran. Pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan gagal setelah Iran menolak kondisi baru AS terkait Selat Hormuz dan uranium yang disimpan di Amerika Serikat.

Minyak Brent menyentuh US$ 103 per barel sedangkan WTI diperdagangkan dekat US$ 98, memperkuat tekanan pada tagihan energi Indonesia. Indonesia mengimpor sekitar 1,5 juta barel per hari terhadap konsumsi harian 2,1 juta barel, sehingga lonjakan harga minyak menjadi hambatan struktural pada neraca perdagangan.

Anggaran negara Indonesia tahun 2026 mengasumsikan harga minyak sebesar US$ 70 per barel dengan batas maksimum US$ 92. Harga saat ini telah melampaui ambang tersebut, memperlebar kesenjangan subsidi bahan bakar dan menekan ruang fiskal.

Kapal tanker Pertamina dilaporkan tetap terjebak di Selat Hormuz akibat ketegangan yang lebih luas. Hal ini mempersempit pasokan bahan bakar domestik sambil menambah tekanan pada neraca pembayaran dalam jangka pendek.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berargumen bahwa rupiah saat ini diperdagangkan di bawah nilai fundamentalnya. Dia mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi rendah, dan imbal hasil aset domestik yang menarik sebagai alasan untuk mengharapkan pemulihan.

Warjiyo menekankan koordinasi moneter-fiskal antara Bank Indonesia dan pemerintah akan diperketat. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang dan membangun kepercayaan investor dalam lintasan pemulihan.

Menteri Koordinator Airlangga Hartarto menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap tangguh terhadap goncangan global. Pasokan uang domestik mencapai Rp 10.355 triliun pada Maret 2026, menunjukkan kondisi likuiditas tetap teratur.

Tekanan aliran modal tetap ada di pasar saham selama sesi yang sama. Indeks acuan IHSG turun 1,27 persen menjadi 7.445 dalam sesi pagi, mencerminkan kelemahan rupiah.

Investor ritel memperhatikan perkembangan geopolitik Timur Tengah dan aksi harga minyak sebagai katalis selanjutnya. Level Rp 17.400 dipandang sebagai resistensi teknis selanjutnya bagi pasangan tersebut hingga akhir April 2026.

Kesimpulan: Penembusan rupiah melewati Rp 17.300 per USD mencerminkan kombinasi risiko geopolitik Timur Tengah dan ketergantungan impor minyak struktural Indonesia. Bank Indonesia melihat langkah ini sebagai sementara mengingat fundamental yang kuat, namun kelemahan lebih lanjut menuju Rp 17.400 tetap menjadi kemungkinan.

Bagi investor ritel internasional, volatilitas rupiah menyoroti bagaimana FX pasar negara berkembang bisa bergerak tajam akibat guncangan komoditas dan geopolitik. Gotrade menawarkan akses ke ratusan saham AS dengan modal serendah US$ 1, memudahkan untuk diversifikasi ke aset yang dinyatakan dalam USD dan mengurangi eksposur terhadap mata uang negara berkembang tunggal.

Artikulli paraprak#SHOWBIZ: Tragedi melanda set live
Artikulli tjetërPenghargaan Inovasi Presiden 2026 diumumkan
Agus Setiawan
Saya Agus Setiawan, lulusan Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya. Saya mulai bekerja sebagai jurnalis pada tahun 2015 di Media Indonesia, dengan fokus pada isu politik nasional dan hubungan regional Asia Tenggara. Pada 2019, saya bergabung dengan CNN Indonesia sebagai reporter, meliput kebijakan luar negeri, diplomasi, dan isu geopolitik. Saya berkomitmen untuk menyajikan analisis yang mendalam dan terpercaya bagi pembaca.