Berita Gotrade – Sektor manufaktur Indonesia mencapai level terkuatnya dalam 2,5 tahun selama kuartal pertama tahun 2026 menurut Bank Indonesia. Indeks PMI-BI bank sentral mencapai 52,03% naik dari 51,86% pada kuartal sebelumnya yang menandai pembacaan tertinggi sejak Q3 2023.
Hal Penting: – PMI-BI mencapai 52,03% pada Q1 2026, tertinggi dalam 2,5 tahun menandakan ekspansi manufaktur – Kapasitas produksi naik menjadi 73,33% didorong oleh sektor pertanian dan manufaktur – Gubernur BI Perry Warjiyo menguraikan 3 pilar ketahanan ekonomi di forum IMF-Bank Dunia
Pembacaan PMI-BI di atas 50% menandakan sektor manufaktur mengalami ekspansi daripada kontraksi. Persediaan barang jadi, volume produksi, dan total pesanan semuanya meningkat di sebagian besar sub-sektor bisnis.
Industri yang performanya paling kuat termasuk kertas dan produk kertas, pencetakan dan reproduksi media, produksi kulit dan alas kaki, serta manufaktur makanan dan minuman. Penyediaan kapasitas produksi juga meningkat menjadi 73,33% dari 73,15% pada Q4 2025 didorong oleh keuntungan pertanian dan manufaktur.
Survei Aktivitas Bisnis BI menunjukkan Weighted Net Balance sebesar 10,11% dengan performa positif di sektor layanan keuangan, pertanian, manufaktur, dan perdagangan grosir. Direktur Komunikasi BI Anton Pitono mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan peningkatan permintaan selama hari libur keagamaan besar di Q1 2026 termasuk Tahun Baru Cina, Nyepi, dan Ramadan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyajikan tiga pilar ketahanan ekonomi Indonesia di Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia 2026 di Washington D.C. pada 15 April. Tiga faktor tersebut adalah kredibilitas kebijakan, kapasitas adaptif, dan kemitraan internasional.
Kredibilitas kebijakan dicapai melalui konsistensi dan koordinasi kebijakan moneter, langkah fiskal, dan stabilitas sistem keuangan. Kapasitas adaptif mengacu pada penyesuaian terus menerus dari kerangka kebijakan untuk sesuaikan dengan dinamika global yang berkembang dan risiko yang muncul.
BI memproyeksikan sektor manufaktur akan tetap mengalami ekspansi di Q2 2026 dengan kinerja potensial melebihi hasil Q1. Responden survei memperkirakan Weighted Net Balance akan meningkat menjadi 14,80% didukung oleh musim panen, aktivitas tambang yang meningkat, dan peluncuran proyek konstruksi baru.





