Gotrade News – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia mengeluarkan Keputusan No. 144/2026, merevisi kerangka harga patokan mineral (HPM) untuk berbagai komoditas. Regulasi ini mulai berlaku pada 15 April 2026, mengubah keputusan menteri sebelumnya 268.K/MB.01/MEM.B/2025.
Revisi tersebut menyesuaikan faktor korektif dan menambahkan mineral tambahan ke HPM bijih nikel. Hal ini juga mengurangi faktor silika dalam penetapan harga bauksit dan mengubah unit pengukuran dari US$/ton metrik kering menjadi US$/ton metrik basah.
Key Takeaways: – Revisi HPM ESDM mencakup 10 mineral termasuk nikel, bauksit, kobalt, tembaga, dan pasir besi, efektif 15 April 2026. – PT Freeport Indonesia sebagian membuka kembali Grasberg Block Cave; blok 2 dan 3 kembali beroperasi sementara blok 1 tetap ditutup hingga Q1 2027. – ANTAM menargetkan produksi bijih nikel sebanyak 18,1 juta ton (+12,7%) dan emas sebanyak 935 kg (+25,8%) dalam rencana produksi RKAB 2026.
Revisi HPM berlaku untuk bijih nikel, bauksit, kobalt, timbal, seng, tembaga, mangan, kromium, konsentrat besi, dan pasir besi. Lingkup yang luas ini menandakan upaya sistematis untuk menyelaraskan harga mineral Indonesia untuk mencerminkan realitas ekstraksi berat basah.
Secara terpisah, PT Freeport Indonesia (PTFI) melanjutkan operasi terbatas di Grasberg Block Cave (GBC) setelah longsor pada September 2025 memaksa penutupan penuh. CEO Tony Wenas mengkonfirmasi bahwa penambangan blok 2 dan 3 telah dimulai dengan kapasitas terbatas.
Blok 1 dari GBC tetap ditutup dan akan menjalani rehabilitasi mulai Mei 2026. Program perbaikan ditargetkan selesai pada Q1 2027, artinya kapasitas produksi penuh di Grasberg tidak akan pulih sebelum awal tahun depan.
Investor yang memantau operasi PTFI sering mengacu pada perusahaan induk Freeport-McMoRan (FCX) sebagai eksposur ke output tembaga dan emas Indonesia. Pembukaan kembali GBC sebagian merupakan sinyal pemulihan awal, meskipun kembalinya sepenuhnya ke kapasitas sebelum longsor masih beberapa bulan lagi.
Dari segi produksi, PT Aneka Tambang (ANTAM) mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran 2026 yang ambisius kepada regulator. Perusahaan menargetkan produksi bijih nikel sebanyak 18,1 juta ton, naik 12,7% dari produksi 2025.
ANTAM juga menargetkan produksi emas sebanyak 935 kilogram pada tahun 2026, meningkat 25,8% dari 743 kg yang tercatat tahun sebelumnya. Produksi bauksit diatur untuk meningkat tajam menjadi 4,9 juta ton metrik basah, sekitar 70% di atas 2,8 juta ton yang diproduksi pada tahun 2025.
Direktur Untung Budiharto menyatakan bahwa semua target disetujui sesuai kerangka regulasi RKAB yang berlaku. Namun, RKAB bauksit untuk PT Mega Citra Utama masih menunggu persetujuan menteri, memperkenalkan risiko eksekusi tertentu.
Konteks Pasar Global
Harga nikel global tetap rendah di tengah kelebihan pasokan dari smelter Indonesia dan permintaan lambat dari produsen baterai China. Revisi HPM dapat mempengaruhi cara harga bijih Indonesia dipatok relatif terhadap pemasok bersaing di Filipina dan Kaledonia Baru.
Investor yang memantau paparan sektor pertambangan lebih luas sering memperhatikan Vale (VALE) dan BHP (BHP) bersama produsen regional untuk arah komoditas. Trend harga nikel, tembaga, dan emas tetap menjadi pendorong utama profitabilitas bagi nama-nama pertambangan Indonesia.
Gabungan reprising regulasi, pemulihan parsial Grasberg, dan target produksi ANTAM yang meningkat menampilkan gambaran yang tercampur namun hati-hati konstruktif. Investor sebaiknya memperhatikan pembaruan persetujuan RKAB ANTAM dan jadwal rehabilitasi blok 1 Grasberg sebagai katalisator jangka pendek.





