Pada sebuah operasi Jumat malam, pasukan Amerika Serikat dan Nigeria membunuh direktur operasi global Negara Islam, demikian pernyataan Komando Afrika AS. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa operasi tersebut berhasil membunuh Abu-Bilal al-Minuki, “wakil pemimpin” ISIS secara global. Serangan ini merupakan operasi terbesar Amerika Serikat di Nigeria sejak Natal, ketika pasukan AS melepaskan beberapa rudal ke militan di negara bagian Sokoto Nigeria bagian barat laut.
Presiden Nigeria, Bola Tinubu, dalam pernyataan terpisahnya mengatakan bahwa serangan tersebut berhasil membunuh al-Minuki dan “beberapa ajudan” serta terjadi di Cekungan Danau Chad.
Komando Afrika AS, dalam pernyataan pada Sabtu, menggambarkan al-Minuki sebagai “direktur operasi global untuk ISIS.” Menurut AFRICOM, operasi ini juga berhasil membunuh “para pemimpin senior ISIS lainnya.” Video udara yang dibagikan oleh AFRICOM di media sosial menunjukkan pertempuran darat sebelum beberapa serangan udara mengenai area tersebut. Belum jelas berapa banyak pasukan Nigeria atau AS yang terlibat dalam operasi tersebut atau berapa banyak anggota ISIS yang tewas.
al-Minuki telah tunduk pada sanksi AS sejak 2023, karena keterlibatannya dengan ISIS di Nigeria. Juga dikenal sebagai Abubakar Maniok, AFRICOM menggambarkannya sebagai “teroris paling aktif di dunia” yang membantu merencanakan serangan ISIS dan operasi keuangan.
Serangan Jumat merupakan eskalasi terbaru dalam enam bulan keterlibatan AS yang meningkat di Nigeria. Trump telah beberapa kali menuduh pemerintah Nigeria tidak mampu menghentikan apa yang ia sebut sebagai kekerasan yang merajalela terhadap umat Kristen di negara tersebut dan mengancam tindakan militer. Pada Natal, kapal-kapal Angkatan Laut melepaskan beberapa rudal ke negara bagian Sokoto. Serangan tersebut bertujuan melawan kampunya ISIS di daerah tersebut, kata AFRICOM saat itu. Pada bulan Februari, militer AS mulai mendeploy sekitar 100 pasukan ke negara tersebut untuk melatih militer setempat. Pasukan Amerika tersebut dikirim khususnya untuk membantu “mengidentifikasi dan menonaktifkan kelompok teroris ekstremis.”
Operasi yang diperluas di Nigeria terjadi ketika Amerika Serikat terus melanjutkan kampanye mereka terhadap ISIS di Afrika. Pasukan Amerika telah beberapa kali melakukan serangan yang menargetkan afiliasi ISIS di Somalia dalam beberapa bulan terakhir, sebagai bagian dari perang udara yang lebih luas dan semakin meningkat di negara tersebut.






